Artikel

Kekuatan Niat

MasjidKita 14 October 2016
Artikel

Darussalam-online.com – Niatmerupakan perkara yang sangat penting di dalam islam. Dan nyaris setiap buku yang menulis tentang motivasi, ketaatan, tazkiyatun nafs di awali dengan bab niat. Jika tidak di awali dengan bab khusus tentang niat, setidaknya diawali dengan hadits terkait niat untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya. Begitu juga halnya dengan akhlak,  karya para ulama’ terdahulu banyak yang memulai karyanya dengan hadits tentang diutusnya Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

عَنْ  اَمِيْر الْمُؤْمِنِيْنَ  اَبِى حَفْصٍ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ  عَنْهُ قَالَ  : سَمِعْتُ  رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى  اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنّيَّاتِ واِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى  فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوِامْرَاَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَاهَاجَرَ اِلَيْهِ . رواه البخارى و مسلم

Diriwayatkan dari Amirul mukminin Abu Hafs Umar ibn Khatthab Radhiyallahu Anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:Hanyasanya amalan perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan hanyalah setiap orang itu tergantung pada apa yang diniatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang dia harapkan atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya menuju apa yang ia inginkan”. (HR. Bukhari-Muslim)

“Hanyasanya amalan perbuatan itu tergantung pada niatnya”

Mulia tidaknya sebuah amalan tergantung niatnya. Keshalihan sekalipun, jika niatnya adalah riya’, maka itulah ukuran amalan tersebut. Tetapi bisa jadi ada amalan sederhana, bahkan mungkin cenderung disepelekan orang lain, namun karena pelakunya menunaikan amalan itu dengan niat ingin mengharap ridha Allah, maka amalan sederhana tersebut bisa berubah menjadi besar.

Ukuran amalan adalah niat, dan ukuran niat adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi tolok ukurnya seperti itu. Betul memang, bahwa agar sebuah amal diterima oleh Allah Ta’ala setidaknya harus memenuhi dua unsur utama, yaitu niat dan dilakukan sesuai dengan sunnah Rasulullah. Namun jangan dilupakan bahwa yang pertama adalah niat dahulu. Sehingga jika kemudian keseluruhan aktivitas yang kita lakukan dalam hidup ini bisa diproyeksikan untuk Allah Ta’ala dari awal, maka insya Allah amalan-amalan itu semuanya bisa menjadi besar di hadapan-Nya.

Ilustrasi sederhananya begini: kita mendatangi sebuah majlis ilmu untuk mendengarkan ceramah. Dan sejujurnya kita tidak tahu isi hati orang lain, dan kita hanya menghukumi orang sesuai dengan dzahirnya. Maka ada yang berangkat menyimak ilmu, karena terdorong rasa tidak enak, tidak nyaman atau rasa malu ketika sahabatnya mengajak berangkat menuntut ilmu. Motivasi-motivasi seperti ini menurunkan derajat amalan yang dilakukan. Bisa jadi, mereka yang tidak pernah niat ngaji, kebetulan mampir di sebuah masjid kemudian melihat sebuah majlis ilmu, lalu ia ikut di dalamnya secara spontanitas, mendapatkan pahala lebih besar di sisi Allah. Karena niatnya tidak terkontaminasi dengan hal-hal lainnya selain Allah.

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah yang bisa dikarenakan Allah itu, hanya terbatas pada perkara yang berhubungan dengan ibadah mahdhah (tilawatul quran, shalat, shiyam, haji, umrah dll) saja? Tentunya tidak.

Berpedoman pada surah Adz Dzariyat ayat 56, kalau mau menjadi muslim yang taat, maka mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, siap tidak siap, menjadikan seluruh kegiatan hidupnya bercorak ibadah, apapun bentuknya. Berarti kalau sampai ada kegiatan digunakan diluar konteks beribadah kepada Allah, maka kegiatan tersebut bermasalah.

Mungkinkah kita hidup ibadah terus? Kalau asosiasi ibadah dalam benak kita hanya tentang shalat dan puasa, maka akan rumit sekali menjalankan ayat. Tetapi jika asosiasi ibadah dalam benak kita adalah Islamisasi seluruh aktivitas kehidupan, maka itu jadi lebih mudah. Rujukannya adalah apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam hidupnya. Jika sekiranya Rasulullah diutus hanya untuk mencontohkan ibadah mahdhah saja, tidak perlu waktu dan hidup lama bahkan sampai memakan waktu 23 tahun lamanya.

Jadi, jika seluruh hidup kita berorientasi kepada apa yang dicontohkan Rasulullah maka pada saat itulah kita sudah menjalankan ibadah dalam setiap gerak gerik. Bukankah dalam semua perkara ada syari’ahnya?!

Mari kita runut sejenak, mulai dari bangun tidur, bersiwak, berwudhu, shalat tahajjud, membangunkan keluarga untuk shalat tahajjud, shalat subuh dan lain sebagainya. Semuanya ada sunnahnya.

Sarapan pun ada sunnahnya. Misalnya makanan yang terbaik adalah makanan yang belum tersentuh api. Dan memastikan makanan yang dihidangkan adalah halal dan sehat juga merupakan sunnah. Bahkan termasuk sunnah adalah mempolakan cara berpikir untuk selalu memihak kepada kebenaran. Jadi fikrah-pun harus nyunnah.

Dan ketika ada hal-hal yang tidak dilarang oleh islam maka mau tidak mau, kita harus memberikan warna islam atas apa yang kita lakukan.

“Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”

Pahala seseorang dilihat dari niatnya. Amalan besar belum tentu menghasilkan pahala yang banyak jika niatnya kerdil. Agar sebuah amalan sekecil apapun bisa mendapatkan pahala besar, maka lakukanlah dengan ikhlas.

Biasanya sehebat apapun kita, dalam melakukan setiap sesuatu selalu didorong oleh banyak faktor. Dan seseorang melakukan sesuatu hanya karena satu faktor, sangat jarang dan sulit dilakukan. Contohnya, buka puasa, meskipun hanya sekedar tentang menghilangkan rasa dahaga, tapi ketika memilih makanan, seseorang milih-milih mau buka puasa dengan apa.

Nah, niat ikhlas itu seperti apa? Ikhlas itu mampu menyingkirkan semua alasan dan faktor lain dan menyisakan satu faktor saja, yaitu hanya Allah Ta’ala. Dan ini bukan perkara mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Muncul pertanyaan, kenapa harus begitu? Jawabannya adalah karena Allah itu Maha Esa. Esensi dari tauhid adalah meng-Esa kan Allah Ta’ala. Kalimat ini terkesan mudah dipahami padahal tidak. Sebab pada dasarnya sejak dahulu kala Allah Subhanahu wa Ta’ala itu satu, kenapa harus di Esa-kan?

Setelah memahami bahwa Allah Ta’ala itu Esa, maka dengan segera harus memahami dua perkara, yaitu bahwa Allah-lah segala-galanya dan hanya Allah. Maksud bahwa Allah-lah segala-galanya adalah apapun yang kita lakukan harus berorientasi untuk Allah. Dan hanya Allah maksudnya adalah amal baik yang kita lakukan tidak boleh disamping karena Allah juga karena yang lain-lainnya.

Misalnya, seorang berinfaq sejumlah uang kepada sekelompok anak yatim dan dhu’afa’ karena merasa iba atau merasa bahwa mereka membutuhkan bantuan. Ataupun seorang berinfaq untuk pembangunan sebuah masjid karena rasa prihatinnya kepada lingkungannya. Namun setelah sekian lama di kemudian hari, seorang itu mengungkapkan bahwa ia kecewa dengan apa yang ia infaqkan kepada anak yatim karena anak tersebut tumbuh dewasa dalam keadaan menjauh dari ketaatan kepada Allah. Ataupun seorang tersebut kecewa karena tidak dilibatkan menjadi DKM masjid padahal ia termasuk salah seorang yang berinfaq banyak untuk pembangunan masjid tersebut.

Lalu, apakah contoh di atas mencapai derajat ikhlas yang diinginkan oleh Rasulullah?! Belum. Dan kenapa ungkapan kecewa itu keluar? Karena orang yang berinfaq tersebut lupa membersihkan hatinya, ia memberi karena kasihan atau karena dhu’afa’ tadi sedang membutuhkan. Sehingga, ketika yang diberi tadi berubah menjadi seorang yang jauh dari Allah atau menggunakannya untuk hal-hal yang haram, ia kecewa. Kenapa? Karena disana tersisa niat jika saya memberi berarti anda harus begini dan begitu. Berarti ini tentang apa, tentang diri kita atau tentang Allah??

Berinfaq karena Allah berarti berharap surga, lalu apakah kita harus peduli terhadap infaq tersebut mau dimanfaatkan untuk apa? Tidak masalah sama sekali, sebab Malaikat telah mencatatnya, pahalanya telah maksimal, yang penting ikhlas karena Allah. Terus kenapa harus kecewa di kemudian hari??

Menjadi faktor pencetus agar orang lain mau beramal itu bagus, tetapi ketika mulai melakukan kebaikan, maka orientasinya harus hanya kepada Allah Ta’ala.

“Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya”

Hijrah berarti harus mengubah diri. Mengubah diri memerlukan tekad yang kuat dan keberanian tidak hanya pengetahuan semata.

Kenapa orang jahilyah tidak mau masuk islam ketika diajak nabi? Apakah islam merugikan? Tidak. Tetapi karena mereka takut akan ketidak-nyamanan yang disebabkan islam jika masuk islam, rasa khawatir berlebihan. Bisnis yang paling utama adalah jualan berhala-berhala kecil yang dijual kepada orang yang datang ke Makkah pada musim haji. Mereka takut jika islam menjadi agama yang kuat di Makkah, maka hal-hal yang sudah mentradisi itu tersingkirkan dari masyarakat jahiliyyah.

Pada hari ini, sebagian umat islam juga mengalami persoalan yang sama ketika harus mengubah dirinya. Mereka tidak punya keberanian yang cukup untuk mengubah diri. Dirundung oleh beragam rasa takut dianggap aneh, tidak disapa, bahkan takut dianggap radikal, takut diblokir dan sebagainya. Jadi rasa takut demi rasa takut. Padahal modal dasar hijrah adalah keberanian.

Jadi, kalau sampai detik ini kita belum berubah ke arah yang lebih baik, periksa kembali kualitas keberanian kita.

Rata-rata yang membuat takut adalah proyeksi kita yang hanya selalu tentang masa depan ketika lanjut usia bukan masa depan abadi setelah meninggal. Ini merupakan kekeliruan besar. Yang benar adalah mempersiapkan masa depan abadi setelah meninggal dunia.

Jika kita membaca sirah sahabat sebelum masuk islam, betapa ngeri dan betapa rusak moral mereka. Jika mereka bisa berubah menjadi lebih baik setelah masuk islam, apakah kita tidak bisa? Yang tadinya  paling memusuhi islam menjadi pahlawan islam yang syahid membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang dia harapkan atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya menuju apa yang ia inginkan”

Motivasi manusia berhijrah berbeda-beda. Ada diantara mereka berhijrah, meninggalkan negerinya karena Allah dan Rasul-Nya (menjalani syariat Allah berdasarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya) dan inilah yang akan mendapatkan kebaikan dan maksud tujuannya sehingga beliau bersabda: “Maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya” yaitu ia mendapatkan apa yang dia niatkan.

Ada yang berhijrah untuk dunia yang hendak ia raih misalnya: seseorang yang gemar mengumpulkan harta, ia mendengar kalau di negeri Islam ada lahan basah untuk membuka usaha (bisnis) maka ia berpindah (hijrah) dari negerinya yang kafir ke negeri Islam tersebut, ia tidak punya maksud/tujuan menegakkan & memprioritaskan agamanya, tujuannya hanya sebatas harta.

Ada pula seorang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam dengan tujuan ingin wanita yang akan dinikahinya. Maka orang yang menginginkan dunia dan menginginkan wanita tidaklah hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia berhijrah padanya” Beliau tidak mengatakan “maka hijrahnya kepada dunia yang dia inginkan atau wanita yang hendak ia nikahi, karena ada yang berpendapat untuk mempersingkat pembicaraan. Yang lain berpendapat: Dalam rangka menunjukkan kehinaan dan kerendahan nilai dunia dan memang beliau menghindar untuk menyebutnya kembali karena hal itu merupakan niat yang rusak lagi rendah. Walhasil, bahwa orang yang niat hijrahnya adalah dunia atau wanita, tidak diragukan lagi bahwa niatnya adalah rendah dan hina.

Sebagai penutup; niat yang baik, amalan yang baik, kualitasnya tidak akan pernah langgeng kecuali disertai dengan keistiqamahan. Istiqamah itu kapan saja, sepanjang hayat. Memulai sesuatu yang baik itu terkadang mudah, tapi mempertahankan kebaikan itu menjadi sesuatu yang amat berat. Istiqamah bisa dihadirkan jika kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala kapanpun dan dimanapun.

Wallahu Ta’ala A’lam (ddn/darussalam-online.com)