Artikel

Angan-Angan Manusia Yang Telah Meninggal Dunia

MasjidKita 15 October 2016
Artikel

Semua orang memiliki angan-angan, angan-angan berupa hal-hal yang dapat membahagiakan hatinya. Seorang yang miskin berangan ingin hidup kaya, seorang yang sakit berangan ingin hidup sehat, seorang yang lumpuh berangan ingin berjalan dengan kedua kakinya dan lain sebagainya. Intinya, semua yang hidup di dunia ini akan berusaha dan bersemangat untuk mencapai apa yang selama ini menjadi angan-angan mereka, hingga tanah masuk dalam rongga-rongga mulut mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “


Jika seandainya anak cucu Adam memiliki satu lembah berisi emas, dia akan menginginkan untuk memiliki dua lembah yang berisi emas, padahal tidak akan pernah ada yang dapat memenuhi rongga mulutnya kecuali tanah (kematian), dan Allah mengampuni orang-orang yang bertaubat”. (HR. Bukhari)


Angan-angan tidak hanya pada orang-orang yang masih hidup saja, tapi juga bagi orang-orang yang telah meninggal dunia. Mulai dari orang-orang beriman yang selama hidupnya mengerjakan amal shaleh, hingga orang-orang yang mujrim yang selalu berbuat dosa, bahkan kafir.


Seorang yang beriman, yang semasa hidupnya selalu bermal shaleh akan berangan dan berharap agar hari kiamat di segerakan. Sebab ia telah mendengar kabar gembira bahwa ia akan masuk ke dalam surga, tempat duduk dan kediamannya telah di tampakkan padanya. Karena begitu bahagia, ia jadi tidak tenang dan berharap bisa kembali pada keluarganya dan memberi tahukan bahwa dirinya akan masuk surga.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إِذَا وُضِعَتِ الْجَنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلاَّ الإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الإِنْسَانُ لَصَعِقَ “


Jika jenazah telah diletakkan di atas kerandanya, lalu di pikul oleh para lelaki di atas pundak-pundak mereka, maka jenazah itu akan berbicara. Jika jenazah itu adalah seorang yang shaleh, dia akan berkata, “Segerakanlah aku, segerekanlah aku.” Dan jika dia bukan seorang yang shaleh, dia akan berkata, “Celakalah diriku, dimanakah mereka akan pergi membawanya.” Semua makhluk dapat mendengar suranya kecuali manusia. Jika mereka dapat mendengarkannya, niscaya mereka akan pingsan karenanya”. (HR. Bukhari)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:


إذا رأى ما فسح له في قبره يقول دعوني أبشر أهلي فيقال له اسكن


Apabila seorang mu’min telah melihat apa yang dilapangkan padanya di dalam kuburnya, dia akan berkata, “Biarkanlah diriku, aku ingin memberi kabar gembira pada keluargaku.” Maka Malaikat berkata kepadanya, “Tenanglah”. (HR. Ahmad)


Demikianlah angan-angan orang-orang yang shaleh, mereka ingin segera ditetapkannya hari kiamat, karena telah melihat berbagai kenikmatan yang yang disiapkan untuknya. Begitu pula seorang yang telah mati syahid, karena telah melihat kedudukannya yang amat tinggi di surga dan berbagai fadhilah yang di dapatkannya, ia berangan untuk kembali ke dunia agar dapat kembali memerangi musuh-musuh Allah hingga sepuluh kali. Demikian penuturan Anas Ibn Malik radhiyallahu a’nhu dalam hadits yang ia riwayatkan.


Adapun orang-orang yang mujrim yang gemar berbuat dosa di dunia, maka mereka juga punya angan-angan. Angan mereka juga adalah kembali ke dunia untuk beramal shaleh. Mereka ingin shalat dua raka’at saja atau bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


مَنْ صَاحِبُ هَذَا الْقَبْرِ؟”فَقَالُوا: فُلانٌ، فَقَالَ:”رَكْعَتَانِ أَحَبُّ إِلَى هَذَا مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ


Siapakah pemilik kuburan ini?” Para sahabat berkata, “Si fulan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat dua raka’at lebih dia inginkan dari sisa dunia kalian.” (HR. Thabrani) Allah azza wajalla berfirman:


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١١)


Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Munafiqun: 10-11)


Angan mereka hanyalah mendapatkan tambahan umur agar dapat kembali beramal shaleh di dunia. Dua raka’at saja. Ya! dua raka’at, itu angan mereka.


Terakhir adalah orang-orang kafir, mereka pun berangan-angan. Angan mereka adalah mendapatkan waktu untuk dikembalikan ke dunia tuk menjadi orang yang beriman, sebab kematian telah meyakinkan dan membuka mata hati mereka yang selama ini tertutup. Sayang, semua itu hanyalah angan-angan saja.


Wallahul musta’aan.


Duhai jiwa yang pasti mati, berdirilah sejenak di tanah itu. Bayangkanlah bahwa di dalam tanah itulah yang kan menjadi rumahmu, satu lubang bernama lahad yang sempit. Kegelapan akan menyelimutimu, tanah akan menindih dan menimbunmu, kau terbaring kaku dalam lubang tanpa cahaya. Hanya bersama sekap-sekap tanah yang menjadi dinding-dinding rumahmu. Lalu di sebelahmu hanya ada seseorang yang menamanimu bernama amalan-amalanmu.


Sementara istirimu akan pergi meninggalkanmu, mungkin dia akan menikah lagi dengan seorang lelaki. Lalu mereka bergembira ria karena mendapatkan ¼ atau 1/8 warisan yang kau tinggalkan untuknya, karena itu haknya. Rumah megahmu, mobil mewahmu, dan semua harta yang selama ini kau berkucur peluh dalam mencarinya, ternyata akan menjadi milik orang lain. Sementara kau hanya dapat terbaring tanpa berbuat apa-apa pada dalam liang kuburmu. Masihkah engkau malas bersedekah? Masihkah malas beribadah? Shalatlah, sedekahlah, beramalallah untuk akhiratmu


Sadarlah.. sadarlah… esok tak ada lagi waktu untuk memenuhi angan-angan itu.


—–


Abu Ukasyah al-Munawy 

(wahdah.or.id)