Artikel

Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin (3)

MasjidKita 01 November 2016
Artikel

Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini.

Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala

Syaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره

“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,

“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,

وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة

“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.

Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل

“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).

Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.

Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك

“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.

Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش

Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang :

  1. orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya.
  2. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya.
  3. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim).

Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.

Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور

“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.

Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullahmenjelaskan,

ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله

“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.

Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)

Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullahmenjelaskan,

وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا

“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.

Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullahmenjelaskan,

وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال

“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.

Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم

Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).

Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)

Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)

Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,

إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها

“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.

Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.

***

Penyusun: Yhouga Mopratama Ariesta

(muslim.or.id)