Artikel

Keutamaan Silaturahim

MasjidKita 02 November 2016
Artikel

Silaturrahim atau menyambung hubungan keluarga, baik yang dekat maupun keluarga jauh, merupakan anjuran dalam Ajaran Islam. Agar terjalin persaudaraan diantara mereka, agar kasih sayang tercipta dalam kehidupan mereka dan agar rasa sepenanggungan, saling memiliki selalu menghiasi kehidupan mereka. Itulah gambaran ummat Islam. Itulah cerminan Ummat sebagai satu kesatuan, sebagai jasad yang satu dan bangunan yang saling menguatkan,

Agar kegiatan silaturrahim senantiasa dilakukan ummat ini, dan Ummat termotivasi untuk melakukan, maka Islam memberikan banyak keutaman bagi mereka yang melakukan silaturrahim.

Keutamaan-Keutamaan itu antara lain:

Pertama: Silaturrahim merupakan ciri khusus atau karakter seorang mukmin.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

(BUKHARI – 5673) : dari Abu Hurairah – radliallahu ‘anhu – dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahim, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Kedua: memperlancar rizki dan panjang umur

 

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

(BUKHARI – 5527) :Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa ingin dilapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahim.”

Ketiga: Mendapatkan Rahmat Allah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَ مَهْ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ فَقَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَلِكِ لَكِ، ثُمَّ قَالَ أَبُوهُرَيْرَةَ: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ }

(BUKHARI – 6948) :dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah menciptakan manusia, tatkala Ia selesai dari penciptaannya, rahim berdiri dan berkata: ‘Ketahuilah, ini adalah kedudukan yang berlindung kepada-Mu dari terputus. ‘Lantas Allah berfirman: ‘Tidak kah engkau ridla jika Aku menyambung siapa saja yang menyambungmu dan Aku memutus siapa saja yang memutusmu? ‘ Maka rahim menjawab, ‘Baik ya Rabb. ‘Lantas Allah berfirman, ‘Itulah bagimu. ‘Lantas Abu Hurairah membacakan ayat: ‘(Akan kah jika kamu berkuasa akan melakukan kerusakan di muka bumi dan memutus sambungan rahim kalian?) ‘ (Qs. Muhammad: ayat 22).

Keempat: saranaataujalanmasukkeSurga Allah SWT

قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ،  أَنَّ أَعْرَابِيًّا عَرَضَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي سَفَرٍ، فَأَخَذَ بِخِطَامِ نَاقَتِهِ أَوْ زِمَامِهَا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي بِمَا يُقَرِّبُنِيمِنْ الْجَنَّةِ وَمَا يُبَاعِدُنِي مِنْ النَّارِ قَالَ: فَكَفَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَظَرَ فِي أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ لَقَدْ هُدِيَ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ فَأَعَادَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْبُدُا للَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَدَعْ النَّاقَةَ

(MUSLIM – 14) : Telah menceritakan kepadaku Abu Ayyub, bahwa seorang Badui menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau dalam suatu perjalanan, lalu dia mengambil tali kendali untanya atau tali kekangnya, kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, atau wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang sesuatu yang mendekatkanku dari surga dan sesuatu yang menjauhkan ku dari neraka? ‘ Perawi berkata, ‘Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti kemudian melihat para sahabat-sahabatnya, kemudian bersabda: “Dia telah diberi taufik atau telah diberi hidayah.’ Dia bertanya, ‘Apa yang kamu katakan?’ Perawi berkata, ‘Lalu dia mengulanginya’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahim,lalu tinggalkanlah unta tersebut’.”

Smg bermanfat…aamiin,ws

(tekad.id)