Artikel

Bagaimana Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan? (1)

MasjidKita 02 November 2016
Artikel

Tulisan ini disarikan dari karya Prof. DR. Syaikh ‘Abdur Razzāq bin ‘Abdil Muḥsin Al-Badr yang berjudul Kaifa takūnu miftāḥan lilkhair (Bagaimana menjadi pembuka pintu kebaikan), dengan sedikit penambahan. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat besar bagi diri penulis, keluarga dan para pembacanya.

Pembuka Pintu Kebaikan dan Penutup Pintu Keburukan

Suatu saat Anas bin Malik raiyallāhu‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari rasulullahallallāhu‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).

Terdapat banyak hadis yang semakna dengan hadis yang agung ini. Hadis-hadis tersebut mendukung kandungannya, dan menguatkan maknanya, diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairahraiyallāhu‘anhu bahwa Nabi allallāhu‘alaihi wa sallam melewati beberapa orang yang sedang duduk-duduk, kemudian beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik diantara kalian, yang terbedakan dengan orang yang terburuk diantara kalian?”.

Terdiamlah mereka, lalu Nabi bertanya dengan pertanyaan itu tiga kali, lalu mereka berkata,“Ya, kami mau wahai rasulullah. Beritahukanlah kepada kami tentang orang yang terbaik diantara kami, yang terbedakan dengan orang yang terburuk diantara kami”.

Selanjutnya beliau allallāhu‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وشركم من لا يرجى خيره ولا يؤمن شره

“Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain merasa) aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan (orang lain tidak merasa) aman dari keburukannya” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya,dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Tentulah seorang muslim yang baik, ketika membaca kedua hadis di atas dan hadis-hadis yang semisalnya, sangatlah menginginkan dirinya menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Ia menginginkan dirinya termasuk orang yang mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang baik.

Dirinyapun tidak suka kalau menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan, sehingga mendapatkan celaka, kerugian besar, kebinasaan, serta iapun terancam siksa yang keras karenanya.

***

(muslim.or.id)