Artikel

Bisnis Bukan Sekedar Untung Rugi, Namun Surga Neraka

MasjidKita 21 March 2017
Artikel

Banyak pengusaha menghalalkan segala cara untuk meraih targetnya. Dan tidak sedikit juga menggunakan cara-cara keji untuk mendapatkan harta, bisa dengan suap, korupsi, dan mengurangi timbangan. Ini adalah perilaku para pengusaha yang jauh dair berkah. Pastilah hidupnya diliputi dengan kekhawatiran dan was-was (jika ia masih beriman).

Karena sejatinya, bisnis bukan sekedar untuk rugi, namun menyangkut urusan surga dan neraka.

Misalnya saja ayat berikut ini yang menjelaskan bagaimana hubungan mengurangi takaran dengan surga dan neraka:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3).

Ibnu Katsir berkata,

“Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508).

Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-,

Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.”

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808).

Bukan hanya sekedar dalam hal takaran dan timbangan saja. Urusan akad bisnis yang bathil dan tidak sesuai syariah juga termasuk didalamnya berdampak pada pelanggaran syariah. Misalnya saja dua akad dalam satu transaksi, samsarah ‘ala samsarah, hingga segala transaksi yang melibatkan riba didalamnya. Bukan hanya bathil, namun juga dosanya amat sangat besar. Hingga Allooh SWT mengancam pemakan riba dengan siksa dari neraka dan mereka kekal didalamnya. Na’udzubillah.

Dan berikut penjelasan mengenai yang memakan harta riba:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahalAllah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (TQS. Al-Baqarah: 275).

Itu artinya, aktivitas bisnis sekecil apapun akan dipertanggujawabkan diyaumul hisab kelak. Setiap rupiah yang kita miliki akan ditanya, dari mana kita peroleh dan dimanfaatkan untuk apa harta yang kita miliki. Sahabat Nabi SAW, Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat yang terkenal sangat taat dan sangat kaya raya, suatu ketika mendapat berita bahwa beliau masuk kedalam salah satu penghuni syurga. Akan tetapi, dimasuk surga dengan tertatih-tatih dikarenakan hartanya. Begitu Sahabat Nabi, Abdurrahman bin ‘Auf ini kemudian menangis tersedu. Subhanalloh, sungguh pribadi yang amat takut dan taat kepada Rabbnya.

Jika konsekuensi demikian besar dengan memiliki harta yang begitu banyak, bagaimana jadinya jita harta yang dimiliki ternyata bercampur dan memakan riba? na’udzubillah. Wallohua’lam.