Artikel

Wajibnya Mentadaburi Alquran

Jayyid Tamam 29 June 2016
Artikel

Mentadaburi Alquran Tersebarnya Agama Islam sampai keluar Jazirah Arab merupakan sesuatu yang sangat disyukuri, karena Agama Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pun amat berbangga dengan umatnya yang banyak. Di sisi lain ada hal yang hilang dan dirasa berkurang, manifestasi nilai-nilai Islam terkadang mengalami degradasi seiring dengan pertumbuhan masyarakat Islam di dunia. Banyak masyarakat Islam yang menyepelekan permasalahan yang dulu sangat diperhatikan oleh generasi sebelum mereka. Di antara hal yang kurang mendapat perhatian adalah permasalahan mentadaburi Alquran. Berikut ini sedikit kami cuplikkan kepada pembaca beberapa halaman dari Kitab Al-Adab bab Adab Tilawah Alquran mudah-mudahan ini menjadi bahan perenungan bagi kita dan menjadikan kita lebih mengagungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perintah mengenai tadabur Alquran banyak didapati di dalam Alquran itu sendiri. Di antaranya أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa: 82). Ibnu Sa’di mengatakan, “Allah memerintahkan agar kita menadaburi kitab-Nya dengan cara merenungi makna-maknanya, terus memikirkannya, baik dalam hal prinsipnya dan konsekuensinya, dan membiasakan hal demikian. Karena menadaburi kitab Allah merupakan kunci untuk membuka ilmu dan pengetahuan, hal itu juga mebuahkan kebaikan, dan memperoleh khasanah pengetahuan yang banyak. Tadabur juga berfungsi untuk menambah iman dan mengokohkan pohon keimanan tersebut. Tadabur pulalah yang membuat seseorang mengenali Rab-nya, pengetahuan akan sifat-sifa-Nya yang sempurna dan jauhnya Dia dari sifat-sifat yang tidak sempurna. Dengan tadabur pula seseorang dapat mengetahui mana jalan menuju Allah dan sifat-sifat orang yang menempuh jalan tersebut. Seseorang dapat mengetauhi musuhnya dengan tadabur dan jalan jelek yang menghantrakan kepada adzab serta sifat-sifat orang yang menempuh jalan tersebut. Demikian pula pengetahuan tentang hal-hal yang menjadi penyebab turunnya adzab. Setiap kali seseorang merenungi Alquran, maka akan bertambahlah ilmu, amal, dan bashirahnya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan dan memotivasi agar mentadaburinya. Allah juga mengabarkan bahwa tadabur itulah tujuan utama diturunkannya Alquran. Sebagaimana firman-Nya, video yufid.tv di HD Eksternal كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29). Generasi sahabat nabi ridwanallahu ‘alaihim dan generasi setelah mereka telah mempraktikkan hal ini dalam amalan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Abdurrahman, aku telah diceritakan dari seseorang orang yang membacakan (Al-Quran) dari kalangan sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya mereka dahulu meminta dibacakan 10 ayat dari Rasulullah. Mereka tidak meminta tambahan selain 10 ayat tersebut sampai mereka mendapatkan faidah dari 10 ayat tersebut berupa ilmu dan mempratikkannya dengan amal. Mereka pun mengatakan, “Kami telah mempelajari ilmu dan amal sekaligus.” Kisah lainnya dibawakan oleh Yahya bin Said. Ia menuturkan, “Dahulu aku bersama Muhammad bin Yahya bin Habban duduk bersama, kemudian Muhammad memanggil seseorang dan mengatakan, ‘Kabarkanlah aku mengenai apa yang telah engkau dengar dari ayahmu.’ Orang itu mengatakan, ‘Ayahku telah memberitahuku, ia pernah mendatangi Zaid bin Tsabit. Kemudian ia bertanya kepada Zaid, ‘Apa pendapatmu tentang mengkhatamkan Alquran dalam tujuh hari?” Zaid menjawab, ‘Aku membacanya selama 15 hari atau 10 hari lebih aku sukai. Bertanyalah padaku mengapa demikian.” Kata Zaid. Kemudian ayahku mengatakan, ‘Ya, aku menanyakan alasannya.’ Zaid menjawab, ‘Agar supaya aku menadaburinya dan aku mengamalkan perintah-perintah yang ada padanya.’ Demikianlah sifat-sifat pendahulu kita, mereka minta dibacakan Alquran dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak sepuluh ayat dan mereka tidak meminta tambahan sebelum memahami dan mengamalkannya. Sedangkan pada masa mereka orang-orang menghapalkan Alquran dengan jumlah ayat atau surat yang banyak, tentunya ilmu dan amal merek sangatlah banyak. Adapun kita yang bukan orangArab layaknya mereka, bisa menadaburi Alquran dengan membaca terjemahannya atau menggali tafsir-tafsir ayat tersebut dengan merujuk kepada buku-buku tafsir yang terpercaya. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kita pemahaman terhadapa Alquran dan memberikan kita taufik untuk mengamalkannya. Sumber: Kitab Al-Adab, Hal. 13-14 (pengusahamuslim.com)