Artikel

KAMPUS KEHIDUPAN PARA PEMIMPIN ITU BERNAMA MASJID.

Jayyid Tamam 17 July 2016
Artikel

KAMPUS KEHIDUPAN PARA PEMIMPIN ITU BERNAMA MASJID.
oleh: Remaja Masjid Jogokariyan


Lelaki itu telah menunggu beberapa saat. Ia adalah seorang utusan dari negeri romawi, meminta untuk dipertemukan dengan sang Khalifah, Pemimpin Umat Islam kala itu. Masa saat umat Islam telah menaklukkan satu dari dua imperium terbesar. Memaksa sang Kisra untuk menyerahkan istana putihnya. Saat Negeri kaum muslimin adalah negeri yang disegani karena ketangguhannya. Negeri yang melampaui zamannya.


Lelaki itu telah menanti beberapa waktu. Seorang Shahabat menunjukkan arah untuk menemui sang Amirul Mukminin. “Inilah sang khalifah,” katanya. Terperanjatlah lelaki itu, tidak ada pria bermahkota permata di sana, atau seorang berbaju sutra halus dengan emas menghiasi. Tidak ada lelaki yang dikawal ketat oleh puluhan tentara. Lantas orang seperti apa sang Khalifah ini? Hanya seorang lelaki sederhana, tertidur di bawah pohon kurma.


Yang Beda di Jogokariyan


Selalu ada yang berbeda di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Sebuah tema yang menyimpan gagasan besar diangkat. “Menyiapkan Pemimpin Bangsa dari Masjid.” Tema yang membawa harapan, tantangan, dan persiapan akan masa depan. Dari tema ini ditelurkan berbagai kegiatan yang berusaha mewujudkannya menjadi kenyataan. Di antaranya, Dialog Kebangsaan dengan tema “Ekonomi Kerakyatan dan Kepemimpinan Nasional,” yang diselenggarakan tanggal 29 Juni beberapa tahun yang lalu di Masjid Jogokariyan.


Jarang sekali ada masjid yang mengadakan acara semacam dialog kebangsaan ini. Tema seperti ini, tema yang menghembuskan wawasan berskala nasional bahkan global ini seakan tidak pernah terdengar di masjid-masjid. Saat masjid yang lainnya mencukupkan diri dengan tema-tema seputar aqidah, ibadah, dan akhlaq, masjid Jogokariyan merasa perlu memberikan wawasan yang luas, yang sebenarnya berhubungan langsung dengan kehidupan kita, namun terlupa.


Ibarat menyediakan dua petak sawah dimana yang satu telah membuahkan hasil dan yang lainnya menunggu untuk ditanami, Dialog Kebangsaan ini menyediakan wawasan yang berbobot. Satu sisi bahwa bahasan dalam dialog ini diharapkan menjadi benih-benih yang akan kembali ditanam sehingga berkelanjutan memiliki manfaat yang meningkat; Dan di sisi yang lain, dialog ini sebagai upaya untuk membangun pola pikir umat sehingga menciptakan individu yang berdaya guna dan memiliki kepekaan terhadap masalah di sekitarnya lalu kembali ke umat yang memiliki kesamaan pandangan untuk mau bersama-sama menyumbangkan tenaga dan pikirannnya untuk menyelesaikan segala permasalahan Bangsa dan Ummat ini.


“Sahur... Sahur... Sahur...”


adalah sebuah teriakan yang sering terdengar pada bulan Ramadhan. Masjid-masjid berlomba-lomba untuk mengumandangkan sahur. Ajakan sahur yang terkadang menjadi ironi terhadap keadaan masyarakat; Di saat masjid-masjid berlomba-lomba mengumandangkan sahur bisa jadi ada Jamaah atau tetangga yang bersusah payah dan kebingungan mau makan apa. Padahal, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,


“Bukanlah orang yang beriman, seorang yang kenyang, sedang tetangganya kelaparan” 
HR. Al-Bukhori


Masdji Jogokariyan mengambil langkah berbeda dan jarang kita temukan di masjid-masjid lainnya pada Bulan Ramadhan. Subsidi sahur menjadi usaha nyata untuk peka dan peduli pada sesama Muslim. Subsidi sahur memberikan kabar gembira bagi warga muslim Jogokariyan. Bagaimana bisa? Ya, karena bagi yang mampu, ia menjadi pintu-pintu untuk bersedekah bagi orang-orang yang belum memiliki makan sahur dengan Masjid Jogokariyan sebagai fasilitatornya, bagi yang kurang mampu, diharapkan dengan adanya subsidi sahur dapat memberikan keringanan. Sehingga semua orang bisa sahur, dan mendapatkan keberkahan dari Allah Ta'ala.


Tidak hanya saat Ramadhan, bahkan saat suatu bencana alam terjadi tiba-tiba, masjid jogokariyan mampu mengambil peran sebagai pusat pertolongan. 27 Mei 2006, Sebuah peristiwa akbar terjadi, gempa bumi yang menelan banyak korban. Tidak sedikit warga yang mengalami cedera dan luka yang cukup parah. Kala itu masjid jogokariyan dapat memfungsikan dirinya, dengan segala potensi yang ada, dari yang tua hingga muda. Menjadi rumah sakit darurat, dapur umum, pengungsian sekaligus pusat informasi masyarakat, Masjid Jogokariyan menguji para jamaahnya dalam kepekaan, kepedulian, hingga ketangkasan saat menghadapi kondisi genting. Yang ahli mengolah makanan menyediakan makanan, yang ahli medis memberi pertolongan, yang ahli berkomunikasi menenangkan warga, yang ahli mengemudi hilir mudik mengangkut logistik dan korban, semua memiliki peran dan melaksanakannya dengan sigap.


Di hari-hari biasa, semua jamaah mempunyai berbagai kesempatan untuk mengasah keimanan dan berbagai kemampuan. Baik anak-anak dengan HAMASnya, para remaja dengan pengurus HAMAS dan RMJnya, Bapak-bapak dengan KURMAnya, Ibu-ibu dengan UMMIDAnya, dan bahkan masih banyak ruang-ruang lain untuk mengembangkan diri. Dengan menceburkan diri ke dalam berbagai aktivitas masjid inilah, para jamaah mendapatkan banyak pengalaman yang berharga; baik pengalaman yang manis maupun getir, semua dapat menambah ilmu dan amal kita.


Selain berbagai kegiatan, setiap peristiwa sehari-hari yang terjadi menuntut kita untuk dewasa bersikap. Komposisi jamaah masjid yang sangat bermacam-macam menghadapkan kita pada berbagai masalah yang muncul: dari konflik kepentingan berbagai kelompok, kompetisi yang membawa efek samping negatif, masalah pribadi yang berkembang menjadi masalah besar, hingga dalam mencari solusi pun kadang memunculkan masalah tambahan sebagai akibat dari perbedaan pandangan. Semua masalah sehari-hari tersebut, membutuhkan kebijaksanaan kita semua untuk menyelesaikannya. Sejak bagaimana kita merasakannya dalam hati, hingga saat nanti kita memunculkan sikap terhadapnya, kita perlu berhati-hati; supaya nanti tak ada yang tersakiti, agar kelak kita bertambah bijak.


Menyiapkan Pemimpin


Semua hal yang unik dan berbeda di Jogokariyan ini, selain punya tujuannya masing-masing, ada satu tujuan yang sama di dalamnya: Menyiapkan Pemimpin Bangsa dari Masjid. Jika kita lihat setiap hal yang telah disampaikan di paragraf-paragraf sebelumnya, semuanya melatih dan menyiapkan kita untuk menjadi pemimpin. Baik wawasan Global dan Nasional yang luas, Jiwa yang peka, peduli, dan tanggap, Pengalaman yang mumpuni, hingga skill dan kemampuan yang memadai, semuanya sangat dibutuhkan oleh para pemimpin di segala level.


Indonesia adalah negeri dengan potensi alam yang luar biasa, namun hingga saat ini kita belum bisa merasakan kekayaannya. Pasal 33 UUD 1945 -yang salah satu ayatnya berbunyi ” Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” – dilanggar dan dilecehkan oleh mereka yang seharusnya memperjuangkannya. Rakyat dikorbankan demi kesenangan pribadi, kenikmatan duniawi. Masihkah perlu kita kaji, bahwa kita butuh pemimpin, yang karena keamanahannya, Allah cintai? Sehingga Barokah menyeruak, tumpah ke seluruh negeri?


***


Sejenak mari kita kembali pada kisah sang Khalifah.
Alkisah, Malam itu sang Khalifah tengah berpatroli, Ia bersama seorang sahabatnya berjalan diam-diam, masuk ke kampung-kampung untuk melihat kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri. Kala itu musim tengah tidak bersahabat, Paceklik terjadi cukup lama, hingga banyak hewan mati kelaparan, pepohonan mati kekeringan, bahkan tahun itu disebut dengan tahun abu, karena saking keringnya tanah menghitam layaknya abu.


Setelah beberapa saat berjalan, sampailah mereka kepada sebuah kemah di kampung terpencil di tengah gurun yang sepi. Sebuah tenda rombeng, dari dalamnya terdengar tangisan seorang gadis kecil. Ketika sang Khalifah mendekat, terlihat seorang wanita tua duduk bersama anaknya sambil mengaduk-aduk sebuah panci. Setelah mengucap salam, Khalifah bertanya, “Siapa gerangan yang menangis itu?” Dengan sungkan, ibu itu menjawab, “Anakku.” Ketika ditanya apakah anaknya sedang sakit, ibu itu menjawab lagi, “tidak, ia kelaparan.”


Satu jam lebih Khalifah dan sahabatnya terduduk di depan kemah itu. Tidak habis pikir mereka melihat sang ibu terus memasak tanpa tanda-tanda masakannya hampir matang. Khalifah pun bertanya, “Wahai ibu, Apa yang tengah engkau masak itu? Mengapa tidak matang juga?”


Ibu itu menoleh dan berkata, “Lihatlah sendiri!”


Terkejutlah sang Khalifah: ibu itu ternyata memasak batu! Ia hanya memasak agar anaknya dapat tidur dengan nyenyak. “Inilah kejahatan sang khalifah, ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya!” tambah ibu itu tanpa menyadari bahwa lelaki yang dari tadi berbicara dengannya adalah sang Khalifah. Berlinangan air mata, sang Khalifah bergegas kembali ke madinah. Setibanya, tanpa sejenakpun beristirahat, ia memikul sendiri sekarung gandum dari baitul maal, hendak ia berikan pada keluarga yang tadi ia temui. “Biar aku saja yang memikul karung gandum itu,” kata sang sahabat.


Dengan wajah merah padam, Sang Khalifah menjawab tegas, “Wahai Aslam (nama sang sahabat), Jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka! Sekarang engkau mau memikulkan bebanku ini, Apa engkau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”


Khalifah yang sederhana, Amanah, tegas dan bijak ini bernama 'Umar bin Khattab. Seorang sahabat yang dididik oleh Rasulullah SAW, tidak dengan institusi akademis semacam sekolah, namun sebuah kampus kehidupan: Masjid. Kini, mungkinkah kita mendapat pemimpin dengan sifat-sifat terpuji layaknya Rasulullah dan para sahabatnya? Entahlah, tugas kita hanya berusaha. Kini, kita telah mempunyai masjid beserta sarana prasarana yang cukup lengkap, tinggal kita yang perlu menjawab: Maukah kita bersama-sama, menyiapkan pemimpin bangsa, dari masjid kita tercinta?


***


Seperti Negara Kecil
“Masjid itu seperti negara kecil,” tutur Ust. JazirASP sebagai Dewan Syuro' Takmir Masjid Jogokariyan.


“Jadi, Mengurus masjid itu seperti mengurus negara dengan skala yang lebih kecil,” di dalamnya kita akan menemui permasalahan yang kompleks, dan kerja-kerja menerus yang tidak mudah.


“Di masjid kita belajar mengelola konflik kepentingan; masjid harus bisa menjembatani perbedaan, Semua, miskin-kaya diurus. Kita belajar mobilisasi massa hingga rekayasa sosial. Kita harus melakukan perencanaan, melaksanakannya hingga mempertanggungjawabkan nya.”


Tidak berlebihan sepertinya ketika mengurus masjid disebut seperti mengurus negara kecil, sebab hakikatnya masjid ialah pusat peradaban. Pada zaman Rasulullah SAW, bahkan tamu negara pun diterima di masjid. Di masjid Jogokariyan, kita ingin membangkitkan kembali fungsi-fungsi masjid yang teredupkan oleh laju zaman. Dari Ibadah sampai Ekonomi, masjid berusaha mengambil peran dalam perbaikan. Bahkan di masjid kita ini, kita melakukan “Hubungan Internasional” dengan mendatangkan imam dari Palestina, serta mengirimkan bantuan dan relawan hingga ke luar negeri. Maka mari bersama melangkah layaknya slogan kita: “Dari Masjid Membangun Umat.”


Penutup
Kita punya harapan: dari masjid dengan segala dinamikanya ini akan lahir para pemimpin, yang memandu bangsa ini menuju kebaikan, layaknya dulu para khalifah dan sahabat disiapkan oleh Rasulullah dengan dididik di masjid. Butuh contoh dari negeri kita sendiri? “Dahulu, di Sumatera Barat, para pemuda dididik di Surau-surau, maka kita bisa lihat tokoh-tokoh muslim nasional dulu banyak dari Sumatera Barat.” Pak Jazir Mengisahkan, “Sebut saja Mohammad Natsir, mantan perdana menteri yang menyelamatkan Indonesia dari perpecahan dengan mosi integralnya. Atau H. Agus Salim yang membuka diplomasi Indonesia dengan negara-negara timur tengah. Sebut juga Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama.” “Semoga 2019 besok ada calon presiden hasil didikan masjid.” Harap beliau.


Namun, setiap harapan ada syaratnya. Pak Jazir mengingatkan:

Kita perlu menghidupkan Gagasan. Masjid dengan potensi yang sama, baik SDM, Materi, tanpa gagasan tidak akan mampu membawa perubahan. Maka setiap program yang demikian banyaknya itu haruslah dijiwai dengan gagasan pembawa perubahan menuju kebaikan. Jika, rapat-rapat dan diskusi-diskusi di masjid terjebak pada pemikiran serba praktis dan teknis, tanpa sedikitpun gagasan, maka layaknya raga yang berjalan tanpa jiwa. Kerja-kerja mulia kita dapat mengerdil menjadi rutinitas belaka.


“Ayo Ke Masjid!”



FB/Masjid Jogokariyan Yogyakarta