Artikel

Bekerja untuk Meningkatkan Status Sosial

Jayyid Tamam 20 July 2016
Artikel

Bekerja untuk Meningkatkan Status Sosial

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sahabat Ka’ab bin Ujrah bercerita,

Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melihat ada orang yang kerjanya sangat tekun dan serius. Lalu para sahabat berkomentar,

“Andai usahanya itu untuk jihad di jalan Allah, tentu pahalanya luar biasa.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar,

إن كان خرجَ يسعى على وَلَدِه صِغارًا، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على نفسه، يَعُفُّها، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى رياء ومُفاخرة، فهو في سبيل الشيطان

Jika dia bekerja untuk mencukupi kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk fi sabilillah. Jika dia bekerja untuk mencukupi kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah tua, maka itu termasuk fi sabilillah. Jika dia bekerja untuk menutupi kebutuhan dirinya, sehingga tidak membutuhkan milik orang lain, maka termasuk fi sabilillah. Namun jika dia bekerja untuk meningkatkan status sosial dan berbangga-bangga dengan penghasilan, maka dia berada di jalan setan.  (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath 6835, perawinya dinilai shahih oleh al-Mundziri dan dishahihkan al-Albani)

Karena mencari harta bagi seorang muslim, lebih menekankan asas manfaat. Bukan sebatas untuk ditumpuk dan dijadikan alat kebanggaan. Allah mencela Qarun yang terlalu bangga dengan hartanya. Allah menceritakan peringatan masyarakatnya Qarun,

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. al-Qashsas: 76).

Karena itu, rizki yang dipegang oleh orang soleh, yang dipergunakan sebagaimana mestinnya, dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah mengatakan,

يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang shaleh di tangan orang yang soleh… (HR. Ahmad 18236, Ibnu Hibban 3210 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com)