Artikel

Perspektif Kepemimpinan dalam Islam

Jayyid Tamam 23 August 2016
Artikel

dakwatuna.com – Allah menurunkan manusia kebumi, untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard. Karena manusia, berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Manusia bukan hanya diberikan fisik yang hebat, dan akal yang luar biasa. Tetapi juga struktur kejiwaan yang indah. Sehingga semua potensi tersebut, tidak Allah berikan secara percuma. Tapi Allah perintahkan manusia dengan segala keberdayannya untuk menciptakan kemakmuran dimuka bumi. (al-imarah) Kepemimpinan dalam perspektif fiqh siyasah syar’iyah (Fiqih perpolitikan) adalah suatu hal yang harus selalu dbangun, dan dijaga dengan baik; bukan untuk dikejar. Karena dengan motif membangun dan menjaga inilah, kita akan bisa melahirkan pemimpin yang autentik. Autentik dalam berintegritas, autentik dalam berkapasitas, autentik dalam pengalaman, dan autentik dalam ketaatan menjalankan perintah agama. Akan berbeda jadinya, jika persepsi kita dalam kepemimpinan, adalah sesuatu yang harus dikejar. Segala cara bisa dihalalkan. Bahkan dalam psikologi politik dikatakan, bahwa orang yang berambisi terhadap kepemimpinan, cenderung sulit untuk melepaskan jabatan kepemimpinannya. Dari sinilah lahir motif pemimpin yang otoriter itu biasanya lahir. Dan itulah pentingnya peran agama dalam berpolitik. Bahwa landasan seorang muslim dalam kepemimpinan ialah na’buda ilallah (beribadah kepada Allah), wa la nusyrika bihi syaian (tidak menyekutukan sesuatu yang lain selain Allah). Dan jawaban mengapa kepemimpinan/jabatan, bukanlah sesuatu yang harus dikejar; sesuai dengan hadits rasul : “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamat hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik (H.R. Muslim No.1725)” Kepemimpinan dalam Islam pada dasarnya high-risk, tetapi juga high-value. Karena Allah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pemimpin yang adil, tetapi juga mengancam para pemimpin yang dzalim. Bahkan Imam Ghazali mengatakan,”pemimpin yang adil dalam satu hari, lebih baik daripada beribadah kepada Allah selama 70 tahun”. Itulah cara Allah menghargai pemimpin. Tapi rasul juga bersabda,”kullu kum roin wa kullukum mas’ulun anraiyathi”. Tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Adapun tujuan berpolitik di dalam fiqhun nushush/nushush syar’iyyah (sumber-sumber teks) ialah;1. Himayatu din (memelihara agama), 2. Riasah syu’uni raiyat (Mengatur urusan rakyat). Himayatu din itu sejalan dengan maqashid syariah(tujuan penerapan syariah), yaitu Hifzud din (menjaga agama). Dan sepanjang sejarah kelahiran Islam dimulai, kepemimpinan/politik memberi pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan umat muslim. Dan jika kita melihat pada literatur-literatur barat, kekuasaan/kepemimpinan selalu menggunakan kata power. Sedangkan power, pada umumnya bermakna kekuatan. Dan ini memiliki makna; bahwa kebenaran harus beriringan dengan kekuatan(power). Sehingga kita tidak boleh memisahkan salah satunya. Kaidah seperti inilah yang menjawab fenomena; banyak orang baik, tetapi tidak bisa menciptakan perubahan baik dalam skala besar sedikitpun. Dan ada orang jahat, tetapi dia berkuasa. Bahkan menggunakan kekuasannya secara semena-mena. Dua fenomena tersebut bisa terjadi, karena kita memisahkan antara kekuatan dan kebenaran. Berbicara kepemimpinan, tidak harus selalu berbicara negara. Kepemimpinan yang hakiki, selalu dimulai dari diri sendiri. Karena jika leadership sudah tertanam didalam diri, maka kita akan dengan mudah menularkan kepada orang lain. Kepada keluarga, sahabat, hingga masyarakat sekitar. Bahkan Umar bin Khattab mengatakan,’ ta’alamu qobla antasudu (belajarlah sebelum kamu memimpin)’. Apalagi saat ini Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang berintegritas, berkapasitas, berpengalaman, dan memahami agama Islam secara baik. Dan dengan cara kita mempersepsi ulang kepemimpinan, bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang harus dibangun dan dijaga. Bukan untuk dikejar. Maka kita akan keluar dari carut-marut politik yang tidak produktif, dan mulai mengerjakan hal-hal besar yang bisa dikerjakan, karena kita sudah memiliki pemimpin yang memiliki kompetensi leadership way yang tangguh. Dan semoga Indonesia bisa menjadi negara yang adil, makmur, aman, dan sejahtera. (usb/dakwatuna)