Artikel

ALLAH TUJUAN KITA

Jayyid Tamam 02 September 2016
Artikel

Ustadz Farid Num'man Hasan, S.S


ALLAH TUJUAN KITA


=====================

Sikap dan perbuatan seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebagai pancaran jiwa hamba yang taat, patuh, taqwa, dan pasrah karena sebuah kesadaran. Si muslim sangat yakin bahwa apa-apa yang dimilikinya semuanya semata-mata karena pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan apa saja yang (dimiliki) olehmu berupa nikmat,
kesemuanya adalah pemberian Allah”
(QS. An-Nahl (16): 53)


“Dan jika kamu ingin menghitung-hitung nikmat Allah kepadamu,  niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya”  (QS. Ibrahim (14) : 34)


Sikap dan perbuatan seorang Muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berlandaskan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan dirinya dan apa saja yang merupakan sarana hidupnya. Dan ia pun sangat yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa untuk mencabut apa saja yang dimilikinya itu. Ia pun sadar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bukan saja yang nyata tapi juga yang tersembunyi.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Allah mengetahui apa yang kamu sembunyikan
dan apa yang kamu nyatakan”
(QS. Al Baqarah (2): 77)


Setiap Muslim sadar bahwa tidak ada satupun perbuatannya di dunia baik yang kecil dan besar, kecuali akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Oleh sebab itu, seorang Muslim akan senantiasa bersikap sebagai seorang Muslim yang benar.


1.  Mengabdi hanya kepada Allah

Bertaqwa dan mengabdi hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mempersekutukannya dengan apapun dalam bentuk apapun dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun.


“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepadaku”.
(QS. Adzariyat (51): 56)


“Mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karenanya dengan menjauhi kesesatan, dan (agar) mereka mendirikan sholat, dan memberikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus”
(QS. Al Bayyinah (98): 5)


  Dahulu, pada masa Khalifah Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu ada pangima perang nan gagah berani, Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu, dia adalah panglima besar yang selalu memimpin berbagai peperangan dan selalu menang. Akhirnya banyak manusia yang memuji-muji dan sangat menyanjungnya.  Umar bin Al Khathab mengkhawatiri itu akan mengurangi keikhlasannya, maka Khalid bin Walid dicopot dari jabatannya sebagai panglima tertinggi dan diturunkan menjadi prajurit biasa.


  Orang-orang saat itu bertanya kepada Khalid bin Walid, kenapa dia mau begitu saja diturunkan menjadi prajurit biasa padahal dahulunya panglima tertinggi? Kenapa dia tidak protes atas keputusan itu?


  Khalid bin Walid menjawab: “Tidak apa-apa, karena aku berperang bukan untuk khalifah Umar, tetapi aku berperang untuk Tuhannya Khalifah Umar.”


2.  Tunduk dan Patuh hanya kepada Allah

Tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala merupakan suatu keharusan bagi setiap Muslim, karena ketentuan dan ketetapan Allah bersifat abadi. Tidak berubah sepanjang masa dan tidak bisa dirubah oleh siapapun. Berbeda dengan ketentuan dan ketetapan yang dibuat oleh manusia.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah  dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling dari padaNya  padahal kamu mendengar”
(QS. An Anfal (8): 20)


Dan bagi mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dibalas dengan ganjaran pahala berupa hidup berdampingan di surgaNya bersama para Nabi, orang-orang yang benar (shidiq), orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang shalih.


Seorang Muslim dilarang untuk taat, takut, dan tunduk kepada makhluk melebihi taat, tunduk, dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketaatan kepada makhluk hanya dibolehkan apabila tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah di atas segala-galanya. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berdusta, maka janganlah berdusta meskipun kita diperintah berdusta oleh orang tua kita, guru, kakak, teman, pejabat, atasan, bos, dan yang lain. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita sholat, maka shalatlah walaupun dilarang oleh orang lain.


Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak boleh taat  dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya  dalam hal yang ma’ruf (baik).” (HR. Bukhari No. 4340, 7145 dan Muslim No. 1840)


Justru yang ada adalah takut bila tidak melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala; tidak sholat lima waktu, tidak puasa, tidak berinfaq, tidak mengasihi anak-anak yatim, tidak memberi makan fakir miskin. Dan takut apabila melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala; dilarang untuk melawan orang tua, takut bila berdusta, takut bila berzina, takut bila mencuri, takut bila menyakiti sesama Muslim, takut bila tidak menutup aurat, takut bila berkelahi, takut bila menceritakan keburukan orang lain, dsb …


Jadi hanya Allah-lah yang berhak untuk ditakuti dan ditaati. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


_"Allah lah yang lebih berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang beriman”_
(QS. At Taubah (9): 13)


_"Sesungguhnya (yang pantas) memakmurkan masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat; dan tidak takut kepada yang lain kecuali hanya kepada Allah”_
(QS. At Taubah (9): 18)


3.  Bersyukur hanya kepada Allah

Bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik nikmat kesehatan, akal pikiran, maupun nikmat-nikmat lainnya yang sulit bagi manusia untuk menghitungnya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
_“Dan Tuhanmu telah memaklumkan kamu (bahwa) jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, apabila kamu tidak bersyukur, maka azabKu itu sangat pedih”_ (QS. Ibrahim (14): 6  7)


4.  Ridha dan Ikhlas Menerima Keputusan Allah

Sesudah manusia berusaha, bekerja sungguh-sungguh dan bertawakal, maka ia dituntut untuk ikhlas dan ridha terhadap semua keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia selalu siap menerima semua itu tanpa sedikit pun keberatan di dalam hatinya. Apalagi berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Yang dia rasakan adalah bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun bentuknya, itu adalah yang terbaik baginya.


Orang yang tidak ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sama saja menuduh Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat tidak adil. Padahal Allah lah zat yang Maha Adil.  Keadilan Allah  Subhanahu wa Ta’ala tidak pilih kasih, tidak pandang bulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rasa keadilan kepada semua orang tanpa kecuali. Keikhlasan ini senantiasa dituntut oleh Allah kepada setiap Muslim. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  :


_“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan RasulNya berikan kepada mereka . . ._
(QS. At Taubah (9) : 59)


_"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi. Yaitu masuklah di dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam syurgaKu”_
(QS. AlFajr (89): 27  30)


5.  Selalu Berharap kepada Allah

Setiap manusia pasti punya keinginan dan cita-cita. Keinginan yang macam-macam dan banyak. Ingin memiliki masa depan yang cerah, ingin sekolah yang baik, ingin punya pekerjaan yang layak, dsb, dsb. Namun, ingatlah keinginan itu tidak mungkin tercapai hanya dengan mengandalkan usaha sendiri. Oleh sebab itu, gantungkanlah harapan, keinginan, dan cita-cita itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Manusia tidak boleh menggantungkan harapannya kepada sesama makhluk apalagi kepada benda-benda mati. Karena banyak juga orang-orang yang menggantungkan harapan, keinginan, dan cita-citanya kepada kuburan orang terkenal, paranormal, dan dukun, ramalan bintang, roh-roh halus, dsb. Hal ini disamping tidak masuk di akal juga akan terkena dosa paling besar yakni dosa syirik (menduakan Allah dengan makhluk).


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (pertemuan) dengan Allah akan tiba. Dia Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(Q.S AlAnkabut (29) : 5)


Allah  Subhanahu wa Ta’ala  pun melarang kita berputus asa kepadaNya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


“Janganlah kamu putus asa kepadaKu, karena sesungguhnya tidaklah putus asa kepada Allah, kecuali orang-orang yang kafir”
(QS. Yusuf (12): 87)


“Janganlah kamu berputus asa dari Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu”
(QS. AzZumar (39): 53)


6.  Berdo’a (Memohon Pertolongan Allah)

Salah satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah  Ta’ala adalah berdo’a kepadanya dan hanya kepadaNya. Kenapa Allah Ta’ala senang diminta oleh hambaNya. Karena Allah Maha Kaya. Dialah pemiliki tunggal apa ayang ada di alam semesta beserta isinya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang miskin. Miskin segala-galanya. Kenapa ? Karena pada hakekatnya semua yang ada pada manusia sangat sedikit dibandingkan kekayaan alam semesta. Yang sedikit itupun bukan miliknya karena ketika datang ke dunia, manusia tidak membawa apa-apa, satu potong pakain pun tidak, bahkan dirinya sendiri adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Oleh sebab itu, manusia yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang sombong, yang merasa kaya dan tidak butuh pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Islam mengajarkan agar kita selalu berdo’a sambil merendahkan diri kepadaNya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, katakanlah : bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan do’a, orang yang berdo’a kepadaKu”
(QS. AlBaqarah (2): 186)


Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca di setiap kesempatan dan di mana saja. Berdo’alah ketika hendak makan dan selesai makan, ketika hendak tidur dan bangun tidur, ketika belajar, ketika keluar rumah, dan naik kendaraan, ketika berpakaian, dan bercermin, dan ketika melakukan kegiatan-kegiatan yang lainnya.


Agar do’a dikabulkan seorang hamba diharapkan suci diri dan pakaian, dengan penuh harap, ikhlas, dengan suara perlahan-lahan dan dengan menyebut nama Allah yang Mulia (Asma’ul Husna).


7.   Menjadi pembela agamaNya

Seorang muslim yang baik, tentunya tidak ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Harus menjadi istimewa dibanding orang lain. Di antaranya adalah hendaknya dia menjadi muslim pejuang yang membela agama Allah Ta’ala yang diturunkanNya melalui risalah NabiNya yang mulia, Islam.


Membela agamaNya, bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari yang paling ringan sampai yang paling berat mengorbankan harta dan nyawa; seperti menyantuni kaum muslimin yang lemah, membela yang tertindas dan terusir, memberikan infaq untuk para pejuang, pendirian masjid, Islamic Center, menjadi pemikir dan penulis muslim yang handal, sampai ikut berjihad fi sabilillah di medan tempur.


Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan pendirian kalian. (QS. Muhammad: 7)

Wallahu A’lam

(iman-islam.com)