Artikel

Ma’rifatullah Sebagai Asas Esensial Sebuah Peradaban

Jayyid Tamam 06 September 2016
Artikel


Worldview seringkali dipahami sebagai cara pandang hidup yang dimiliki oleh seorang manusia. Dilihat dari asal katanya, kata World memiliki arti alam, kehidupan, atau dunia. Sedangkan kata View dapat diartikan sebagai pandangan atau akal pikiran. Kata Worldview sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Latin, yaitu Weltanschauung. Secara sederhana, kata Worldview dapat dipahami sebagai cara pandang hidup yang setiap manusia harus memilikinya dalam menjalani kehidupan.


Dalam khazanah keilmuan Islam, Al Ghazali menyebutkan bahwa salah satu pemahaman penting yang harus dimiliki seorang manusia dalam hidup adalah tentang apa yang diimani. Keimanan inilah yang mewujudkan adanya dua pemahaman penting lainnya, yaitu apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Ketika seorang manusia meyakini sesuatu, berarti ia telah memiliki cara pandang hidup atau Worldview yang ia jadikan landasan berpikir dalam menentukan sikap dan perilaku tentang apa yang harus ia lakukan dan apa yang ia harus tinggalkan. Maka, urgensi adanya Worldview bagi seorang manusia merupakan suatu keniscayaan.

Cara pandang hidup inilah yang menentukan perbedaan seorang Muslim dengan Kafir dan Munafik. Perbedaannya terletak pada hal yang paling fundamental, yaitu Syahadatain. Seorang Muslim yang kaffah tentu konsekuen dengan Syahadatain. Berbeda halnya dengan orang Kafir yang sama sekali tidak meyakini Syahadatain dan orang Munafik yang dipertanyakan tentang Syahadatain mereka. Inilah yang menjadikan semua turunan tingkah laku yang ditunjukkan seorang Muslim dalam menjalani hidup sepenuhnya berbeda dengan orang kafir dan munafik.


Dalam sejarah pun dapat diketahui bahwa salah satu perwujudan Syahadatain dibuktikan dengan fakta yang menunjukkan bahwa Syahadatain telah mengubah wajah bangsa Arab yang saat itu merupakan bangsa Jahiliyyah menjadi peradaban ke khalifahan Islam yang mengalahkan Romawi dan Persia yang saat itu merupakan dua imperium besar yang sangat ditakuti. Hal ini menunjukkan salah satu urgensi Syahadatain, yaitu merupakan titik tolak asas perubahan seorang manusia yang kemudian terejawantahkan sebagai sebuah peradaban besar manusia.

Syahadatain jugalah yang menjadikan seorang Muslim mengimani keberadaan Allah SWT yang satu-satunya berhak disembah. Ia juga mengimani asma-asma Allah SWT yang tertulis dalam Al Quran dan Al Hadits dan hanya Allah SWT satu-satunya yang menciptakan, memelihara, dan mengatur segala hal. Ini merupakan konsekuensi yang pasti diimani oleh seorang Muslim ketika ia menjadikan Syahadatain sebagai landasan Worldview dalam menjalani hidup.

Berbeda halnya dengan orang-orang Kafir dan Munafik. Mereka tidak menjadikan Syahadatain sebagai landasan Worldview untuk menjalani hidup. Maka, sudah dapat dipastikan semua hal yang mereka perjuangkan dalam hidup akan berakhir sia-sia. Mereka hanya menjadikan akal dan panca indera sebagai sarana untuk mencari kebenaran. Pencarian kebenaran yang mereka jalani menggunakan filsafat sebagai wadah untuk akal dan panca indera mereka. Namun, filsafat yang mereka gunakan justru mengantarkan mereka kepada prasangka dan hawa nafsu belaka yang pada akhirnya tidak mencapai kebenaran yang mereka cari. Justru semakin menimbulkan banyak keraguan dalam diri mereka sehingga semakin tidak mempercayai adanya kebenaran. Inilah buntut awal munculnya sekularisme beserta turunan isme-isme lainnya yang menganggap bahwa kebenaran itu relatif dan harus bertolak pada ukuran manusia. Padahal Islam telah menjelaskan bahwa kebenaran itu hanya datang dari Allah SWT dan manusia memiliki banyak keterbatasan dalam memanfaatkan akal yang Allah SWT karuniakan.


Islam adalah satu-satunya jalan yang seyogianya dipilih oleh setiap manusia dalam mencari kebenaran. Karena hanya Islam yang memiliki konsep integral dan holistik terkait berbagai hal. Islam merupakan tatanan hidup yang menjadikan hidup manusia memiliki makna. Semua itu bisa didapatkan dengan menjadikan Syahadatain sebagai landasan Worldview yang tak lain merupakan deklarasi ketundukan diri seorang manusia kepada Islam. Ketika seorang manusia bersyahadat, maka telah resmi ia menjadi seorang muslim yang mendapatkan konsekuensi dari Syahadatnya. Konsekuensi yang ia terima sama sekali tidak mengekang akal dan panca inderanya. Justru memberikan wadah untuk dapat berpikir dan mengindra sesuai fitrah kemanusiaan yang ia miliki. Karena sesungguhnya fitrah yang dimiliki setiap manusia sejak lahir adalah naluri untuk beragama, yaitu menauhidkan Allah SWT sebagai Ilah satu-satunya yang berhak diimani. (dakwatuna.com/hdn)