Artikel

TA’AWUN, SEBUAH KEHARUSAN

Jayyid Tamam 08 October 2016
Artikel

TA’AWUN, SEBUAH KEHARUSAN

(Al Fikrah Ed.80 Th.2/Safar/1428 H)


Tolong menolong atau ta’awun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan membuktikan, bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain, pasti tidak akan dapat dilakukan sendirian oleh seseorang meski dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu.

Ini menunjukkan, bahwa tolong-menolong dan saling membantu adalah keharusan dalam hidup manusia.Allah Ta’ala telah berfirman,”Dan tolong-menoolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah: 2)


A. Klasifikasi Manusia dalam Ta’awun.

Ada empat klasifikasi manusia di dalam tolong-menolong, yaitu:


1. Al-mu’in wal Musta’in. Yaitu orang yang memberi pertolongan dan juga minta tolong. Orang ini memiliki sikap timbal balik dan inshaf (seimbang). Ia laksanakan kewajibannya dan ia juga mengambil apa yang menjadi haknya. Ia seperti orang yang berutang ketika sangat butuh, dan mengutangi orang lain ketika sedang dalam kecukupan.


2. La Yu’in wa la Yasta’in. Yaitu orang yang tidak mau menolong dan juga tidak minta tolong. Ia ibarat orang yang hidup sendirian dan terasing, tidak mendapatkan kebaikan, namun juga tidak mendapat kejelekan orang. Dia tidak dicela karena tidak pernah mengganggu, namun tidak pernah mendapatkan kebaikan dan ucapan terima kasih karena tidak melakukan sesuatu untuk orang lain. Namun posisinya lebih dekat pada posisi tercela.


3.Yasta’in wa la Yu’in. Yaitu orang yang maunya minta tolong saja, namun tidak pernah mau menolong. Ia adalah orang yang paling tercela, terhina dan terendah. Ia sama sekali tidak punya semangat berbuat baik dan tidak punya perasaan khawatir mengganggu orang. Tidak ada kebaikan yang diharapkan dari orang bertipe ini, maka cukuplah seseorang dianggap hina jika ketidakberadaannya membuat orang lain lega dan merdeka. Ia tidak mendapatkan loyalitas dan ukhuwah. Dan di masyarakat, ia bahkan sering menjadi penyakit dan racun yang mengganggu.


4. Yu’in wa la Yasta’in Yaitu orang yang selalu menolong orang lain, namun dia tidak meminta balasan pertolongan mereka. Ini merupakan orang yang paling mulia dan berhak mendapatkan pujian. Dia telah melakukan dua kebaikan dalam hal ini, yaitu memberi pertolongan dan menahan diri dari mengganggu orang. Tidak pernah merasa berat di dalam memberi bantuan dan tidak pernah mau berpangku tangan ketika ada orang lain butuh pertolongan.


B. Beberapa Faedah Ta’awun


Dalam ta’awun ada banyak sekali manfaat yang dapat diambil, di antaranya :


1. Dengan tolong-menolong, pekerjaan akan dapat terselesaikan dengan lebih sempurna. Sehingga jika di satu sisi ada kekurangan, maka yang lain dapat menutupinya.


2. Dengan ta’awun dakwah akan lebih sempurna dan tersebar.


3. Ta’awun dan berpegang teguh kepada al-jama’ah adalah perkara ushul (pokok) dalam ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan tolong-menolong, maka telah terealisasi salah satu pokok ajaran Islam.


4. Dengan saling menolong dan kerja sama, maka akan memperlancar pelaksanaan perintah Allah, membantu terlaksananya amar ma’ruf dan nahi munkar. Saling merangkul dan bergandeng tangan akan menguatkan antara satu dengan yang lain, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alahi wasallam.


5. Ta’awun melahirkan cinta dan belas kasih antara orang yang saling menolong dan menepis berbagai macam fitnah.


6. Ta’awun mempercepat tercapainya target pekerjaan, dengannya pula waktu dapat dihemat. Sebab waktu amat berharga bagi kehidupan seorang muslim.


7.Ta’awun akan memudahkan pekerjaan, memperbanyak orang yang berbuat baik, menampakkan persatuan dan saling membantu. Jika dibiasakan, maka itu akan menjadi modal kehidupan sebuah ummat.


C. Bagaimana Mewujudkan Ta’awun


Agar ta’awun dapat terwujud dengan baik, maka harus diperhatikan kiat-kiat berikut ini:


1. Mengerti Masalah Khilaf.

Perbedaan pendapat itu ada dua macam, yaitu perbedaan tanawwu’(variatif) dan perbedaan tadhad (kontradiktif). Perbedaan tanawwu’ adalah perbedaan yang hanya menyangkut jenis dan macam amalan dan bukan masalah yang prinsip sehingga tidak diperbolehkan mengingkari pelakunya. Orang yang tidak faham masalah ini akan menganggap, bahwa setiap perbedaan adalah berlawanan (tadhad) dan bertentangan, sehingga siapa saja yang tidak sama dengannya dianggap sebagai lawan atau musuh. Masuk dalam perbedaan tanawwu’ yaitu perbedaan bidang kerja dan spesialisasi orang perorang. Ada yang memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis, ada yang pandai berorasi, ada yang mampu berinfaq membangun masjid atau sekolah dan ada yang menangani bidang sosial kemanusiaan dst. Maka dalam hal ini, seseorang tidak boleh mencela yang lainnya, saling mengejek dan menganggap apa yang ia kerjakan adalah yang paling baik.


2. Menjauhi Penyakit Hati.

Kerja sama dan saling menolong tidak akan terealisasi, jika masing-masing elemen terkena penyakit hati, seperti hasad (dengki), benci dan dendam, amarah dan saling buang muka. Semua itu akan menyebabkan perpecahan serta menjadi penghalang dari terjalinnya ta’awun.


3. Mensosialisasikan Hadits Nabi Sallallahu ‘alahi wasallam, yang menjelaskan, bahwa orang-orang mukmin di dalam saling cinta, bergandengan dan berkasih sayang, seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakit.


4. Memperbaiki Hubungan Sesama Muslim. Memperbaiki hubungan sesama muslim sangat mendukung terlaksananya ta’awun. Dengan hubungan yang baik, akan mencegah permusuhan dan menyambung tali ta’awun dan ukhuwah. Allah Ta’ala berfirman, “Sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara saudaramu.” (al-Hujurat:10).


5. Menyatukan Barisan dan Meminimalisir Perbedaan.

Dengan anjuran agar saling mempererat hubungan dan tolong-menolong serta menjauhi perpecahan umat, maka persatuan sangat mungkin diraih. Kita sadar, bahwa di antara tipu daya orang-orang kafir dan munafik adalah dengan mencerai beraikan persatuan dan melemahkan semangat ta’awun.


6. Membudayakan Sikap Ringan Tangan.

Yaitu membiasakan diri agar mudah memberi bantuan kepada sesamamuslim, dan merasa senang dengannya. Merasa berat, dan enggan jika dimintai bantuan.


7. Menyadari Bahwa Ta’awun adalah Sebuah Keharusan di Setiap Tempat. Baik dengan anggota keluarga, sesama muslim dan tetangga, maka kapan seseorang merasa bahwa ta’awun adalah sebuah keharusan, maka dengan sendirinya ia akan cepat terealisasi.


8. Membiasakan Tepat Waktu. Disiplin dan tepat waktu ketika melakukan pekerjaan bersama akan menumbuhkan semangat ta’awun. Karena ini menunjukkan adanya perhatian dan anggapan penting akan pekerjaan tersebut.


9. Pembagian Kerja. Membagi pekerjaan sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing , sangat membantu proses ta’awun. Sebab seseorang yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya akan merasa senang dan menjadikan kerja sama lebih kuat dan membuahkan hasil yang efisien dan optimal .


10. Menyadari Pentingnya Da’wah. Dengan mengetahui pentingnya da’wah dan tujuan yang akan dicapai, maka akan mempererat jalinan ta’awun. Sebab seorang da’i pasti membutuhkan pihak-pihak yang membantu dan mendukungnya.


11. Menyadari bahwa salah satu sebab kemunduran dan lemahnya umat Islam adalah karena sikap saling menjauh antara mereka. Sumber: Kutaib “At-Ta’awun wa Atsaruhu fi at-Taghyir” Abdullah bin Sulaim al-Qurasyi.


Sumber Tulisan: http://wahdah.or.id/taawunsebuah-keharusan/