Artikel

Menjaga Islam Dari Penyimpangan

MasjidKita 12 October 2016
Artikel

Darussalam.id – Nikmat iman dan islam lebih mahal dari materi. Namun tidak semua muslim menjaga dan memelihara kedua nikmat tersebut. Tidak sedikit dari kaum muslimin, hanya untuk mendapatkan kekayaan, mereka rela mengorbankan imannya. Demi mendapatkan jodoh, rela meninggalkan islamnya.

Pertanyaannya, bagaimana petunjuk alquran dan as sunnah agar islam kita selamat dari penyimpangan-penyimpangan pemahaman, perilaku ataupun keyakinan?? Berikut solusi agar islam kita selamat:

    Komitmen Terhadap Alquran Dan As Sunnah

Cara yang paling utama untuk menjaga keislaman kita dari penyimpangan ialah komitmen terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, baik dari sudut ilmu dan amal. Mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Hujurat: 1)

    Benar Dalam Memahami Islam

Yaitu memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti pemahaman orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka? Para sahabat Radhiyallahu Anhum.

Ibnul Qayyyim Rahimahullah berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para sahabat Rasulullah, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي , ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ …..

“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka…..” (Muttafaqun ‘alaihi)

Yang dimaksud dengan generasiku adalah para sahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para sahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.

Para sahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabi-Nya, dan menegakkan agamaNya. Dan pemahaman para sahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang shalih).

    Tidak Ghuluw (Berlebihan)

Apapun yang berlebihan bisa menjadikan seseorang terjatuh dalam penyimpangan. Allah Ta’ala menyeru para ahli kitab untuk tidak ghuluw di dalam beragama,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ …. (النساء: 171)

“Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”… (An Nisa’: 171)

Dan benar, ternyata dalam surah At Taubah ayat 30-31, orang yahudi dimurkai oleh Allah Ta’ala dan orang Nashrani akhirnya tersesat. Kenapa? Karena Yahudi menganggap ‘Uzair sebagai anaknya Allah sementara orang Nashrani menganggap Nabi Isa juga sebagai anak Allah.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ{30} اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ{31}

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 30-31)

Jika Yahudi dan Nashrani menyimpang dan sesat karena berlebihan terhadap orang shalihnya, apakah hal itu juga bisa menimpa sebagian kaum muslimin?? Bisa. Mengaku beragama islam, tapi ghuluw terhadap gurunya, tokohnya dan lain sebagainya.

    Komitmen Untuk Berjama’ah

Karakter ajaran islam adalah berjama’ah. Bisa tidak seorang individu mengamalkan ajaran islam secara sempurna? Tidak bisa. Islam adalah agama universal, komprehensif, tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh satu orang, karena sifat manusia itu lemah dan akan kuat jika bersatu padu. Bergabungnya muslim dalam jamaah adalah implementasi dari perintah Allah. Dalilnya sudah jelas,

واعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ ……

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imran 103)

Apalagi Rasulullah juga menegaskan: “Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah. Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah.“ (HR. Ahmad)

Pertanyaan selanjutnya, sekarang ini banyak sekali jama’ah, semuanya mengaku ahli sunnah wal jama’ah. Lalu jama’ah manakah yang benar?

Tidak ada jalan lain untuk menilainya kecuali dengan cara menimbang kesesuaian anggaran dasar serta manhajnya dengan al-Qur’an dan sunnah. Demikian pula praktek anggotanya, sudahkah mencerminkan sebagai anggota jamaah yang tulus dalam meninggikan kalimat Allah, jauh dari fanatisme kelompok, siap menyatukan dan bersatu dengan jamaah lain, yakin berada dalam kebenaran, namun juga tidak buru-buru mengklaim diri sebagai satu-satunya jamah yang sah bagi kaum muslimin.

Ciri-ciri jama’ah yang benar:

    Jama’ah yang jujur terutama personalnya

Darimana kita mengetahui bahwa kita harus bersama orang-orang jujur? Berdasarkan firman Allah Ta’ala berikut,

يآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At Taubah: 119)

Pertanyaan selanjutnya, benar dalam hal apa? Jujur dalam apa?

Benar dalam seluruh ajaran islamnya. Utamanya dalam aqidahnya, tidak ada syirik, tidak banyak khurafat, tidak boleh hanya terkagun-kagum karena jumlah. Sebab, ukuran sebuah kebenaran bukan karena jumlah pendukung, tetapi dilihat kesesuaiannya dengan alquran dan as sunnah.

Jujur dalam apa? Jujur dalam hatinya, lisan dan perbuatannya. Sebab jujur berarti berkata yang benar yang bersesuaian antara lisan dan apa yang ada dalam hati. Jujur juga secara bahasa dapat berarti perkataan yang sesuai dengan realita dan hakikat sebenarnya. Kebalikan jujur itulah yang disebut dusta.

    Pemahamannya benar dan menyeluruh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208)

Setelah berjama’ah, bagaimana agar kita tidak salah dalam berislam? Kita harus waspada dari penyakit kepentingan (oportunis, pragmatism). Sebab, yang terjatuh dalam penyimpangan bukan hanya orang bodoh. Orang yang dianggap pintar karena dia selalu melihat kepentingan duniawi, ia pun bisa menyimpang.

    Al Hisbah (amar ma’ruf dan nahi munkar)

Islam kita akan terjaga jika ada sebuah instruksi Allah yang diamalkan yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum muslim sebagai penyeru kepada kebaikan dan penolak kemunkaran. Allah Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Firman Allah Ta’ala di atas merupakan dalil yang sharih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Muslim. Bahkan, Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah, atau berdiam diri terhadap kemunkaran dengan “tidak terkabulnya doa”.

Dan jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat munkar maupun tidak.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa umat islam akan senantiasa berada di atas kebaikan, selamat dari berbagai macam penyimpangan jika senantiasa melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya dari hadis Abu Said Radhiyallahu Anhu)

Wallahu Ta’ala A’lam

Dr. Ahzami Samiun Jazuli, MA